PENYELENGGARAAN ONE STOP SERVICES & LEARNING (OSS&L) DI PUSKESMAS DAN PUSTU
Serta Mekanisme Rujukan Terintegrasi dengan WCC / OBH Anggota PERMAMPU dan Lembaga Layanan
Penanggung Jawab dan Tim Pelaksana
LATAR BELAKANG OSS&L
Perempuan di berbagai wilayah masih menghadapi persoalan serius dalam pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), minimnya pendidikan seks, tingginya angka Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), praktik aborsi tidak aman, serta minimnya ruang aman berkonsultasi mengenai tubuh dan relasi kuasa[cite: 3]. Di sisi lain, pendampingan kekerasan terhadap perempuan (KtP) sering kali berjalan sektoral medis atau hukum saja, belum terintegrasi secara utuh dengan pemulihan jangka panjang dan HKSR[cite: 3].
Temuan Feminist Participatory Action Research (FPAR) PERMAMPU 2023 menunjukkan peningkatan tajam perkawinan usia anak (<19 tahun) yang berakar dari rendahnya pengetahuan HKSR, KTD, putus sekolah, kemiskinan, tafsir agama konservatif, dan adat[cite: 3]. Puskesmas dan PUSTU kerap menjadi garda terdepan temuan kasus, namun tanpa sistem layanan terpadu penanganan hanya berhenti di medis dasar[cite: 3].
PERMAMPU menginisiasi model One Stop Services and Learning (OSS&L) for Women’s SRHR berbasis Puskesmas/PUSTU yang menggabungkan pengaduan, pelayanan, dan pembelajaran berbasis praktik[cite: 3]. Sejak 2024, prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) diarusutamakan secara eksplisit agar layanan ramah bagi perempuan disabilitas dan kelompok rentan marjinal[cite: 3].
| Provinsi & Mitra | Kabupaten | Puskesmas OSS&L |
|---|---|---|
| Aceh (Flower Aceh) |
Aceh Tamiang | Puskesmas Kuala |
| Aceh Utara | Puskesmas Muara Batu | |
| Aceh Besar | Puskesmas Lhoknga | |
| Sumatera Utara (PESADA) |
Nias Utara | Puskesmas Awa’i |
| Nias Barat | Puskesmas Mandrehe | |
| Langkat | Puskesmas Sawit Seberang | |
| Pakpak Bharat | Puskesmas Sukaramai | |
| Humbahas | Puskesmas Sait Nihuta | |
| Dairi | Puskesmas Hutarakyat | |
| Sumatera Barat (LP2M) |
Padang Pariaman | Puskesmas Enam |
| Tanah Datar | Puskesmas Lintau Buo Utara II | |
| Kepulauan Mentawai | Puskesmas Sioban | |
| Riau (PPSW Riau) |
Rokan Hilir | Puskesmas Sinaboi |
| Kampar | Puskesmas Air Tiris | |
| Pelalawan | Puskesmas Kota Bunga | |
| Jambi (APM Jambi) |
Merangin | Puskesmas Meranti, Puskesmas Simpang Limbur, Puskesmas Tambang Emas |
| Bungo | Puskesmas Rimbo Tengah | |
| Sarolangun | Puskesmas Sarolangun | |
| Bengkulu (Cahaya Perempuan) |
Rejang Lebong | Puskesmas Sumber Urip, Puskesmas Perumnas |
| Kepahiang | Puskesmas Kelobak | |
| Seluma | Puskesmas Talang Tinggi | |
| Sumatera Selatan | Banyuasin | Puskesmas Sembawa |
| Muara Enim | Puskesmas Gelumbang | |
| Ogan Komering Ilir (OKI) | Puskesmas Awal Terusan | |
| Lampung | Tanggamus | Puskesmas Gisting, Puskesmas Air Naningan |
| Lampung Selatan | Puskesmas Branti Raya | |
| Pesisir Barat | Puskesmas Ngambur |
TUJUAN OSS&L
- Memastikan perempuan semua umur (khususnya pedesaan, miskin kota, remaja) memperoleh edukasi dan layanan HKSR bermutu, mudah diakses, terjangkau, serta menjamin privasi[cite: 3].
- Menyediakan edukasi seksualitas, pemeriksaan kesehatan organ reproduksi, konseling, dan rujukan terintegrasi WCC[cite: 3].
- Memberikan perlindungan bagi korban Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) dan Pencegahan Perkawinan Anak (PPA) melalui transformasi personal untuk menjadi pelaku perubahan[cite: 3].
- Menjadi model acuan yang dapat direplikasi dan diperluas oleh pemerintah dan pemangku kepentingan[cite: 3].
RUANG LINGKUP DAN FUNGSI
Penerimaan aduan aman (tatap muka/hotline), pemeriksaan organ reproduksi, konseling, serta edukasi hak tubuh dan seksualitas[cite: 3].
Pencegahan dini berbasis komunitas, pendampingan keluarga, sosialisasi UU No. 16/2019 & UU TPKS melibatkan kader CU[cite: 3].
Penanganan awal korban, pendampingan psikososial, bantuan hukum, dan perlindungan kerahasiaan korban[cite: 3].
Pembelajaran berkelanjutan bagi kader CU, nakes Puskesmas, dan pendamping WCC mengenai perspektif GEDSI[cite: 3].
TAHAPAN PEMBENTUKAN DAN OPERASIONAL
- Tahap 1 - Persiapan & Pemetaan: Identifikasi kasus dominan, celah layanan nakes, serta jejaring rujukan terdekat[cite: 3].
- Tahap 2 - Penetapan Struktur & Peran: Pembentukan tim kolaboratif Puskesmas, kader CU, dan koordinator WCC[cite: 3].
- Tahap 3 - Penyusunan Alur Layanan & SOP: Penetapan rujukan lepas/sinergi, format pencatatan aman, dan prinsip *informed consent*[cite: 3].
- Tahap 4 - Penguatan Kapasitas: Pembekalan GEDSI, komunikasi asertif, konseling dasar, dan batasan wewenang kader[cite: 3].
- Tahap 5 - Operasional & Pembelajaran Praktik: Layanan terpadu terjadwal, refleksi kasus berkala, dan dokumentasi advokasi[cite: 3].
MEKANISME RUJUKAN LAYANAN TERINTEGRASI
Pelimpahan penuh wewenang dan berkas kepada lembaga penerima rujukan[cite: 3]. Tanggung jawab beralih penuh ke lembaga rujukan, termasuk pemenuhan akomodasi disabilitas[cite: 3].
Berbagi sumber daya (anggaran, staf, atau logistik) antarlembaga untuk penanganan terpadu dan pemulihan komprehensif[cite: 3].
PENGUATAN KAPASITAS KADER OSS&L
Kader OSS&L berasal dari anggota Credit Union (CU) dan Forum Perempuan Muda (FPM) yang telah bergabung minimal 6 bulan dan lulus materi dasar[cite: 3].
| Tingkat Kader | Kebutuhan Peningkatan Kapasitas | Kriteria & Sikap |
|---|---|---|
| Pemula |
• Pemahaman konsep dasar OSS&L & perspektif GEDSI[cite: 3] • Pengetahuan dasar KSR & komunikasi asertif[cite: 3] • Pertolongan Pertama Psikologis (PFA) & form OSS&L[cite: 3] |
Integritas, menjaga kerahasiaan (*confidentiality*), non-diskriminatif, proaktif, dan tidak menyalahkan korban[cite: 3]. |
| Menengah |
• Pengetahuan mendalam KSR (IVA, IMS, aborsi aman, kanker rahim)[cite: 3] • Regulasi hukum: UU Perkawinan, UU TPKS, UU PKDRT, Qanun Aceh[cite: 3] • Keterampilan asesmen masalah korban & mekanisme rujukan[cite: 3] |
Mampu menggali akar persoalan, mampu menyosialisasikan OSS&L di komunitas secara luas[cite: 3]. |
| Lanjutan |
• Keterampilan interaksi dengan disabilitas (rungu, wicara, intelektual)[cite: 3] • Pendampingan lapangan kasus berisiko & konselor sebaya[cite: 3] • Memfasilitasi pelatihan HKSR & monitoring kasus[cite: 3] |
Kompeten menjadi fasilitator, konselor terlatih, dan mitra kritis staf lapangan[cite: 3]. |
HASIL YANG DIHARAPKAN
- Akses Setara HKSR: Layanan terjangkau, ramah inklusi/GEDSI, serta privasi terjaga[cite: 3].
- Layanan Terintegrasi & Responsif: Sinergi efektif Puskesmas, WCC, OBH, dan jaringan layanan pemerintah[cite: 3].
- Pemberdayaan Korban: Perempuan korban KtP & PPA bertransformasi menjadi subjek mandiri[cite: 3].
- Replikasi Model: OSS&L diadopsi sebagai kebijakan layanan publik pemerintah daerah[cite: 3].
LAMPIRAN: STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
Pencegahan & Penanganan Perkawinan Usia Anak (<19 Tahun) Konsorsium PERMAMPU
| Tahap Pencegahan (Belum Terjadi Perkawinan) | Tahap Penanganan (Sudah Terjadi Perkawinan) |
|---|---|
|
|
Wajib membawa Surat Tugas resmi & ID Card[cite: 3]. Dilarang turun sendiri pada kasus berisiko tinggi; dampingan dilakukan bersama aparat desa atau PPA[cite: 3]. Disediakan bantuan hukum penuh dari OBH jika ada kriminalisasi/teror[cite: 3].
Biaya pendampingan, transportasi, visum/medis, dan hukum ditanggung anggaran lembaga & Host PERMAMPU[cite: 3]. Didorong alokasi pembiayaan jangka panjang lewat APBDes di tingkat desa[cite: 3].
| Nama Informan / Pelapor | |
| Nama Korban & Usia | |
| Alamat Lengkap | |
| Nama Orang Tua / Wali | |
| Penyebab Utama |
[ ] Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) [ ] Tekanan Orang Tua [ ] Masalah Ekonomi [ ] Adat / Kepercayaan [ ] Keinginan Sendiri [ ] Kekerasan Seksual / Incest |
| Kebutuhan Khusus Disabilitas | |
| Kronologi Singkat & Tindak Lanjut |