Sumatera Utara, 14 Februari 2026 – PESADA Perempuan
Pembaharu bersama jejaring NGO di Sumatera Utara menyelenggarakan Pertemuan NGO
bertajuk “Respon Bencana & Advokasi Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Pasca”. Forum ini menjadi ruang konsolidasi bagi organisasi masyarakat sipil
untuk memperkuat sinergi sekaligus merumuskan strategi advokasi dalam proses
pemulihan pascabencana.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah NGO/CSO yang terlibat
langsung dalam program tanggap darurat berbagi pengalaman lapangan. Diskusi
mengulas praktik respons yang telah dilakukan, merefleksikan berbagai
tantangan, serta mengidentifikasi kesenjangan intervensi, khususnya dalam
pengarusutamaan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion).
Peserta menilai bahwa pendekatan yang lebih inklusif masih perlu diperkuat agar
kelompok perempuan, penyandang disabilitas, anak, lansia, dan kelompok rentan
lainnya tidak terpinggirkan dalam proses pemulihan.
Selain berbagi praktik dan pembelajaran, forum ini juga
mengkritisi Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P)
Sumatera Utara. Para peserta menekankan pentingnya revisi dokumen tersebut
dengan membuka ruang partisipasi publik yang lebih bermakna. Pemerintah
didorong untuk memutakhirkan data terpilah secara sistematis sebagai dasar
perencanaan yang responsif dan akuntabel.
Lebih jauh, peserta menegaskan perlunya integrasi prinsip
Build Back Better (B3s) dalam R3P, yang tidak hanya berfokus pada pembangunan
kembali infrastruktur, tetapi juga mengedepankan mitigasi dan pengurangan
risiko bencana. Pendekatan ini diharapkan berpusat pada pembangunan manusia
serta restorasi ekosistem, sehingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi tidak
sekadar memulihkan kondisi sebelum bencana, tetapi membangun ketangguhan yang
lebih kuat dan berkelanjutan.
Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat
posisi masyarakat sipil dalam mengawal kebijakan pemulihan pasca bencana yang
inklusif, adil, dan berorientasi jangka panjang di Sumatera Utara.